Apa Yang Membuat Islam Itu Indah?

Apa Yang Membuat Islam Itu Indah?  Agama Islam indah karena mengajarkan  toleransi, islam itu penuh toleransi, kita sebagai pemeluk agama islam diharuskan  untuk tetap  menghargai pemeluk agama lain dan tidak saling mengganggu, tetap hidup bertetangga, saling tolong menolong, islam tidak mengajarkan  permusuhan terhadap  agama lain/ non muslim.  

Dengan saling bertoleransi  bisa mempererat tali silaturahmi, tidak bisa dipungkiri lagi kalau  suatu perbedaan itu memang bisa menjadi suatu alasan sebuah pertentangan agama satu dengan agama lainnya.

Menghindari  perpecahan untuk menanamkan toleransi di dalam diri dapat membuat manusia itu menjadi semakin memaklumi perbedaan, melatih diri untuk saling menghargai dan menghormati menghargai bahwa setiap manusia memiliki agama, suku, budaya, etnis yang berbeda, menguatkan rasa persaudaraan kalau  toleransi bisa  memperkuat hubungan sesama  manusia, maka sudah bisa dipastikan rasa persaudaraan sesama  manusia semakin dipupuk. Meningkatkan keimanan dan di setiap agama pasti mengajarkan kebaikan kepada umatnya dan tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kebaikan kepada umatnya untuk hidup bermusuhan dengan umat yang lainnya.

Berperilaku baik antar sesama manusia merupakan suatu keharusan dalam agama islam.  Dalam menyebarkan agama, islam sudah memberikan peringatan jauh-jauh agar tidak memaksa keyakinan agama lain  untuk memeluk ajaran agama islam. Allah ta’ala berfirman:

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya is Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”  ( QS. Al-Baqarah ayat 256)

Islam memiliki keistimewaan  di dalam sisi ajarannya yaitu:

  1.   Ajaran islam hanya mengesakan  allah dalam melaksanakan ibadah.

Di dalam ajaran agama lain  kegiatan ibadahnya dengan menduakan allah . namun untuk ajaran agama islam yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan allah berfirman:

Artinya: “ Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (QS. An Nahl: 75).

 Dalam lanjutan  ayat diatas disebutkan

Artinya : “ Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?” (QS. An Nahl: 76).

  1.   Allah benar- benar di agungkan Di dalam Islam

Allah Subhanahu wata’ala   itu maha besar yang dimana patut untuk kita agungkan. Seperti yang disebutkan di dalam hadist berikut ini:

Artinya : “ Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, ia berkata, “Salah seorang pendeta Yahudi pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seraya berkata”, Wahai Muhammad, sesungguhnya kami dapati (dalam kitab suci kami) bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Allah berfirman, “Akulah Penguasa (raja)”, maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tertawa (lebar) sampai nampak gigi geraham beliau dalam rangka membenarkan ucapan pendeta Yahudi tadi, kemudian beliau membacakan firman Allah (yang artinya), “Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat.” (QS. Az Zumar: 67). (HR. Bukhari no. 4811 dan Muslim no. 2786).

Leave a Comment