Begini Hukumnya Update Status Ibadah di Media Sosial

Begini Hukumnya Update Status Ibadah di Media Sosial, Di zaman sekarang ini, berbagai kegiatan kerpa kali dibagikan ke dalam media sosial, mulai dari kegiatan di lingkungan kerja, aktivitas dapur, hingga kegiatan ibadah sering kali menjadi konten di media sosial. Berbagai kegiatan ibadah kerap kali menjadi status di media sosial banyak orang seperti shalat, mengaji, puasa, atau ibadah lainnya, sehingga memberikan kesan bahwa mereka memamerkan ibadah atau amal kebaikan yang mereka lakukan.

Memang ada fenomena memprihatinkan, yakni banyak umat Islam yang menulis update status berisi kegiatan ibadah atau amal kebaikan, sehingga kesannya mereka pamer amal atau ingin mendapatkan pujian dan dibilang “hebat” oleh orang lain.

Update Status Ibadah di Media Sosial

Menurut beberapa narasumber menjelaskan bahwa memamerkan ibadah pada media sosial dengan tujuan agar dipuji termauk dalam pembuatan riya’ atau alias syirik kecil. Dalam Islam, amal ibadah hanya untuk Allah SWT, tidak usah diperlihatkan kepada orang lain, apalagi di media sosial yang ruang lingkupnya sangat luas.

Pahala kebaikan akan hilang jika dipamerkan (riya’).

Adapun sejumlah dalil yang menjelaskan bahwa perbuatan riya’ merupakan suatu perbuatan yang dapat menghilangkan pahala amal kebaikan. Dan berikut beberapa dalil larangan pamer ibadah kepada orang lain, termasuk menuliskannya sebagai update status di media sosial.

“Katakanlah wahai Muhammad sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah tuhan yang Maha Esa. Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah ia megerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi:110).

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik paling kecil. Maka beliau ditanya tentang itu. Beliau berkata: Riya” (HR. Ahmad, Thabrani, Ibnu Abid Dunya dan Baihaqi).

“Bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil. Mereka bertanya: Apakah itu syirik yang paling kecil ya Rasulullah? Beliau menjawab: Riya’! Allah berfirman pada hari kiamat, ketika memberikan pahala terhadap manusia sesuai perbuatan-perbuatannya: “Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang kamu pamerkan perilaku amal kamu di dunia. Maka nantikanlah apakah kamu menerima balasan dari mereka itu.” (HR Ahmad).

Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan orang banyak pada hari Kiamat)”. (HR. Bukhori)

“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil”. Mereka berkata,”Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Beliau bersabda, “Dia adalah riya’. Sesungguhnya Allah -Tabaroka wa Ta’ala- akan berfirman pada hari para hamba diberi balasan berdasarkan amal-amal mereka, “Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian dahulu berbuat riya’ dengan amalan-amalan kalian di hadapan mereka ketika di dunia. Perhatikanlah, apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka”. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad)

Penjelasan hadis di atas sudah terlihat cukup jelas bahwa berbagi status terkait amal kebaikan atau ibadah melalui media sosial yang bertujuan hanya utnuk menuai pujian merupakan suatu hal yang di larang dalam Islam. maka dari itu, marilah kita bersama sama untuk menghindari segala macam perbuatan yang akan merugikan diri kita sendiri baik di dunia maupun di akhirat nanti. Selalu ingat, bahawa apa yang kita perbuat selama hidup di dunia nanti akan dimintai sebuah pertanggung jawaban atas segalanya di akhirat.

Leave a Comment