Cara Ibadah Kepada Allah

Subhanahu wa ta’ala  Berdasarkan tiga hal Penting yaitu

  1. Kita beribadah Kepada Allah subhanahu wata’ ala, Lillah yang artinya semata –mata hanya kepada allah.  Allah Azza wa jalla Berfirman:

“ tidaklah manusia diperintahkan  melainkan untuk beribadah kepada allah dengan mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah semata .” ( QS. Al-Bayyinah:5)

  1. Kita beribadah kepada Allah  subhanahu wata’ ala, Billah yang artinya Bahwa kita beribadah kepada allah azza wa jalla benar-benar dengan pertolongan Dari Allah. Allah Azza wa jalla Berfirman:

hanya kepada engkau ya allah kami beribadah dan hanya kepada engkau ya allah kami memohon pertolongan.”  (QS.Al-fatihah: 5)

  1. Kita beribadah kepada Allah  subhanahu wa ta’ala, fillah yang artinya  sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh  Allah Subhanahu wa ta’ala. oleh karena itu nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam selalu mengingatkan kepada kita, agar kita tidak membuat hal-hal yang baru di dalam agama ini, yang berkaitan dengan ibadah kita,  Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:

“ Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan atas perintah kami maka amalnya tertolak  ( dikembalikan kepada orang itu tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala).”  (HR.Bukhari)

 Di bulan ramadhan yang semakin dekat ini kita akan selalu melihat atau kita perhatikan sebagian orang akan mulai rajin dalam beribadah. Tetapi sebelum bulan ramadhan atau di bulan selain ramadhan mereka  malah tidak sama sekali melakukan ibadah atau amalan lain.  Kalau seperti ini  secara tidak langsung melakukan ibadah tergantung moment saja atau  sama dengan musiman.  Dan tempat sujud  hanya akan tersentuh ketika bulan suci saja. dan terkhusus untuk wanita, mukena yang biasa dipakai ibadah  baru dibersihkan ketika akan memasuki bulan ramadhan , karena mukena nya baru akan di pakai di bulan suci ini.  Sangat merugi sekali jika melakukan ibadah seperti ini.

Yang semestinya amal seorang mukmin baru akan berakhir disaat ajal datang menjemput.  “ sesungguhnya Allah ta’ala tidak lah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Dikatakan oleh al Hasan Al Bashri rahimahullah  dan beliau membacakan firman allah :

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99) (

 Mayoritas para ulama dan juga Ibnu ‘ Abbas, mujahid mengatakan kalau maksud  dari kata “ al yaqin” di dalam ayat tersebut adalah kematian. Kematian disebut al yaqin sebab kematian itu seperti yang diyakini pasti terjadi.

Az Zujaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ulama lainnya mengatakan,  “Sembahlah Allah bukan pada waktu tertentu saja”. Jika memang maksudnya adalah demikian tentu orang yang melakukan ibadah sekali saja, maka ia sudah disebut orang yang taat. Namun Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah sampai datang ajal”. Ini menunjukkan bahwa ibadah itu diperintahkan selamanya sepanjang hayat (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 4/423.)

Maka dari itu  nabi shallallahu alaihi wa sallam  memerintahkan kita untuk melakukan ibadah tidak hanya sesaat , tidak hanya musiman, tidak hanya di bulan Ramadhan. Dari ‘ Aisyah –radhiyallahu anhu-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘ alaihi Wa sallam bersabda,

 ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya (HR. Muslim no. 783.).

Leave a Comment