July 7, 2022

Lebaran Anak Yatim, Ini Makna 10 Muharram

anak-20210819-093855

Lebaran anak yatim, ini Makna 10 muharram.  Di Indonesia anak yatim memiliki lebaran khusus dan lebaran ini disebut dengan idul yatama. Yang perlu diketahui lebaran ini hanya ada di Indonesia saja. Adapun dalil yang dipakai yaitu:

“Siapa yg mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyura’ (tgl 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yg diusap satu derajat“. Diketahui di dalam jalur sanad hadits ini terdapat seorang yang perawinya yang bernama Habib bin abi habib. Para ulama hadits memberikan pernyataan kalau perawi ini matruk ( ditinggalkan) . maka dengan mengkhususkan untuk menyantuni dan mengasihi anak yatim pada hari asyura (10 Muharram) dengan menggunakan dalil ini tidaklah tepat.

Untuk mengkhususkan waktu  dengan tujuan baik yaitu menyantuni anak yatim setidaknya butuh dalil yang shahih, sebab kita telah diperintahkan untuk menyantuni dan membahagiakan anak yatim setiap hari dan setiap waktu. Bukan hanya di moment yang khusus saja. Kalau  seseorang mengkhususkannya di hari asyura (10 muharram) . maka perlu  dengan dalil yang shahih . kalau tidak ada,  itu sama saja melakukan amalan yang mengada-ada, alias Bid’ah.  Ibnu Taimiyah rahimahullah Mengatakan ,

“Jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu amalan dengan maksud umum dan mutlak, maka itu tidak menunjukkan mesti dikhususkan dengan cara dan aturan tertentu.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 196). Ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak untuk menyantuni anak yatim secara mutlak, maka jangan dikhususkan pada momen tertentu seperti pada hari Asyura.

Membahagiakan anak yatim setiap saat , dan tidak diperlukan waktu yang khusus. Bahagiakan dan hilangkan kesusahan mereka  supaya  bisa mendapatkan keutamaan dekat dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga kelak.

ANJURAN PUASA MUHARRAM

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita melakukan puasa pada bulan Muharram sebagaimana sabdanya,

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).

Imam Nawawi –rahimahullah– menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Lalu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya’ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh Imam Nawawi.

 

1- Mungkin saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau.

2- Boleh jadi pula beliau memiliki udzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 67)

Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu ‘Umar, Aisyah dan Abu Thalhah. Bahkan Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 71). Bulan haram adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus beramal sholih.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait