Mengenal Tradisi Lebaran Anak Yatim 10 Muharram

Mengenal Tradisi  Lebaran Anak Yatim 10 Muharram.indonesia merupakan Negara yang penuh akan tradisi, setiap wilayah atau pulau memiliki tradisi yang berbeda beda. Begitupun di dalam beragama. Ada sebagian masyarakat muslim di Indonesia  di setiap tanggal 10 Muharram merayakan lebaran Anak yatim.  Ataupun  merayakan  tahun baru islam

Dalam perayaan ini  tidak semua  kalangan membenarkan adanya perayaan tahun baru islam dan juga perayaan lebaran anak yatim di tanggal 10 muharram.  Penyebab adanya perayaan seperti ini mereka mengatakan adanya hadist –hadist yang dikenal oleh kebanyakan umat muslim.  Dikarenakan begitu banyak yang ingin menyantuni, jadi seakan –akan pada tanggal 10 muharram ini jadi bulan  keuntungan terhadap anak yatim.

Maka dari itu banyak yang menyebutkan lebaran merupakan hari bersenang -senang . begitu juga pada tanggal ini anak yatim sedang senang-senangnya karena banyak yang menyayangi nya. Salah satu hadits nya  yaitu:

“Siapa orang yang mengusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang ter usap oleh tangannya” (Hadits ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin).

 Di dalam ajaran agama islam tidak ada yang namanya lebaran anak yatim dan mengkhususkan hari atau waktu . jika ada yang melakukannya itu namanya perkara yang mengada-ada di dalam agama yang agamanya sendiri tidak memberikan tuntunannya.

Tetapi bagi mereka yang melaksanakan tradisi lebaran anak yatim, tetap melakukannya dengan alasan yang mereka katakan dengan argumen yang ngasal. Padahal mereka sudah mengetahui kalau hadits-hadits tersebut dhoif.

“Adapun perkataan mereka memang benar hadist tersebut dhaif , tetapi apakah mengamalkan hadits dhaif itu mutlak diharamkan? “

Diketahui jumhur ulama mengatakan bolehnya mengamalkan hadits dhaif  dengan syarat tertentu.Imam nawawi telah menyebutkan di dalam kitab Adzkar (hal .8) , para ulama  dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqih ada yang mengatakan. “Boleh dan disukai mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail a’mal, targhib (memotivasi) serta tarhiib (memberikan peringatan) selama  haditsnya tidak maudhu (palsu),” katanya.

Sebab  walaupun hadits tersebut dhaif , namun terdapat hadis lain yang menaungi secara umum, yaitu hadits keutamaan menyantuni anak yatim secara umum tanpa mengkhususkan hari.  Ini berarti praktek memberikan santunan kepada anak yatim di hari asyura dinaungi dengan hadits umum tersebut.

“Ulama jumhur mengamalkan hadits dhaif Imam Nawawi pun membolehkan selain yang disebutkan selama memang ada hadits shahih yang menaunginya  walaupun secara umum,” katanya.

Terdapat amalan sehari-hari  di bulan muharram  adalah amalan puasa  dan puasa yang paling ditekankan puasa pada hari Asyura  yaitu di tanggal 10 muharram (nilah yang dimaksud dengan ‘Asyura yaitu tanggal 10 Muharram. Yang memiliki pendapat berbeda adalah Ibnu ‘Abbas yang menganggap ‘Asyura adalah tanggal 9 Muharram. Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99.)  menjalankan puasa di hari tersebut akan menghapus dosa-dosa setahun yang lalu . abu Qotadah AL Anshori mengatakan,

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” ( HR. Muslim no. 1162.)

An Nawawi –rahimahullah– mengatakan, “Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa ‘Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, -pen) adalah sunnah dan bukan wajib.”  (Al Minhaj Syarh Muslim, 8/4.)

Leave a Comment