June 4, 2021

Perbedaan Qurban Nadzar (Wajib) dan Kurban Idul Adha

525-min-scaled

Perbedaan Qurban Nadzar (Wajib) dan Kurban Idul Adha. Adanya perbedaan yang paling mendasar  antara qurban  Nadzar  (wajib) dan Kurban Idul Adha.  Adalah dari hukumnya . qurban idul adha  hukumnya Sunnah  yang dianjurkan (tidak berdosa kalau ditinggalkan). Sedang qurban nazar hukumnya adalah Wajib ( akan berdosa jika ditinggalkan).

Qurban merupakan suatu ibadah yang dikerjakan pada bulan Dzulhijjah oleh seluruh umat muslim setelah mengerjakan Shalat ied  dasar dari hukum korban adalah SUNNAH MUAKKAD yang memiliki arti ibadah yang sangat dianjurkan dengan penekanan keras(Muakkad).

Penekanan yang berasal dari hukum kurban ini ditujukan kepada orang yang memiliki kemampuan finansial untuk melaksanakan kurban .  hukum ibadah kurban bisa menjadai wajib karena didasari dengan hukum sunnah muakkad. Akan bisa menjadi naik hukumnya menjadi wajib jikalau  orang tersebut bernazar dengan berjanji kepada Allah subhanahu wata’ala akan melaksanakan qurban jika apa yang diinginkannya telah terpenuhi.

Jika orang tersebut sudah bernazar tetapi ia tidak memenuhi janji nya maka ia akan berdosa .dan jika dikerjakan nazarnya maka orang tersebut akan akan mendapatkan pahala.

Qurban atau Udh-hiyyah di dalam bahasa arab artinya menyembelih binatang ternak yang memiliki kaki empat. Yang dikerjakan setelah mengerjakan shola idul adha di tanggal 10 Dzul hijjah sampai dengan hari tasyrik dari 11,12, dan juga 13 Dzul hijjah  yang mempunyai tujuan  sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ ala.

Dari Jundab ia menyaksiakan Nabi Shallallahu ‘ alaihi wa sallam lalu beliau berkhutbah dan bersabda, “  Barang siapa yang menyembelih sebelum shalat ‘ied, hendaklah ia mengulanginya, dan yang belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan sebutan ‘Bismillah’.”  ( HR.Bukhari No.7.400 )

Korban inilah disebut juga sebagai Idul Adha Yang hukumnya sunnah muakkad atau ibadah sunnah   yang dianjurkan oleh allah subhanahu wata’ ala

Nadzar adalah suatu kewajiban untuk dirinya sendiri melaksanakan suatu perbuatan yang dimana tidak ada kewajiban untuk dikerjakan.  Para ulama melarang nazar dikarenakan dianggap  suatu perbuatan yang meremehkan takdir dari allah subhanahu wata’ ala. Ibnu ‘ Umar radhiyallahu ‘ anhuma berkata,

Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam melarang untuk bernazar , beliau bersabda: ‘ Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu . Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil ( pelit)’ .”( HR.Bukhari no 6693 dan Muslim no 1639)

Artikel Terbaru

Artikel Terkait